Pendahuluan
K-popers turut berbahagia setelah kunjungan Presiden Prabowo
Subianto ke Korea Selatan pada akhir Maret lalu. Menteri Luar Negeri (Menlu)
Sugiono menyampaikan bahwa Indonesia akan meningkatkan jumlah konser K-pop di Tanah Air. Konser internasional di Tanah Air tentunya memiliki dampak positif
pada ekonomi melalui peningkatan okupansi hotel, peningkatan omzet transportasi
dan UMKM, dan peningkatan kunjungan wisata. Namun, efek ekonomi ini bersifat
sementara dan menimbulkan ketergantungan pada kedatangan artis asing. Akibatnya,
Indonesia hanya menjadi pasar konsumsi dan keuntungan ekonomi ini tentunya
mengalir banyak ke agensi dan idol asing tersebut.
Melansir dari
Popmedia1 Indonesia bahkan menjadi penggemar idol Korea
Selatan Bangtan Sonyeondan (BTS) atau disebut Army terbanyak
kedua di dunia mengalahkan negara asal mereka sendiri yang berada di peringkat
kelima. BTS akan mengadakan konser akhir tahun ini di Stadion Gelora Bung Karno
(GBK) selama 3 hari, yang sebelumnya direncanakan hanya 2 hari karena tingginya
permintaan. Comeback konser BTS ini berpotensi menghasilkan uang 16
triliun rupiah2. Wah luar biasa…
Korea Selatan Sukses Karena Membangun Industri, Bukan
Sekadar Menggelar Konser
Industri hiburan
Korea Selatan yang maju ini tentu memiliki domino effect pada sektor
lainnya dalam perekonomian negara mereka, mulai dari royalti, pariwisata,
teknologi, kecantikan, bahkan makanan. Hallyu atau korean wave tidak
serta merta timbul dengan sendirinya ada peran universitas, pemerintah, dan
industri yang berkontribusi disana. Melalui pendanaan riset di universitas, ini
menjadi modal penting dalam menghasilkan riset yang berkualitas, sekaligus
memperkuat fondasi bagi kemajuan industri kreatif nasional. Kemudian pemerintah
berperan dalam diplomasi budaya dan promosi global, pendanaan, penyusunan
kebijakan, dan pembangunan infrastruktur. Peran industri juga tidak kalah
penting,meliputi perekrutan trainee dari berbagai negara, investasi
besar dalam pelatihan talenta, dan pembentukan ekosistem bisnis dan kanal
produksi-distribusi melalui agensi besar, rumah produksi, dan platform digital3.
Belajar dari
Korea Selatan, industri hiburan kreatif mereka menjadi besar bukan karena
mengundang musisi asing, tapi karena berhasilnya pembangunan ekosistem yang
menghasilkan artis berkelas dunia. Indonesia dapat mengikuti langkah-langkah
strategis untuk menciptakan Indonesian pop (I-pop) berdaya saing global.
Pemerintah Indonesia harus menjadi fasilitator melalui kebijakan,
insentif, serta dukungan riset dan inovasi. Hasil riset yang relevan dengan
kebutuhan nantinya dapat diterapkan pada industri hiburan kreatif. Selain riset
dan inovasi, Indonesia juga perlu melakukan pengembangan talenta sehingga dapat
meningkatkan daya saing SDM3.
Indonesia Memiliki Modal Besar untuk Menciptakan I-Pop
Indonesia memiliki kekayaan budaya lokal yang melimpah, meliputi keragaman bahasa, cerita rakyat, tarian, hingga musik tradisional, yang dapat diolah menjadi karya musik yang modern dan menarik bagi generasi muda. Keberagaman ini merupakan keunggulan
yang tidak dimiliki banyak negara dan dapat menjadi ciri khas yang membedakan
I-Pop dari industri musik populer lainnya. Seperti misalnya musik K-pop pada
album terbaru BTS Arirang yang memiliki makna budaya dan emosional. Ternyata
Arirang adalah lagu rakyat legendaris Korea, sehingga album ini memiliki makna “never
forget your roots”.
Selain keberagaman budaya lokal, Indonesia juga
diuntungkan oleh bonus demografi yang puncaknya terjadi pada tahun 2045.
Jumlah generasi muda Indonesia yang tinggi ini sebaiknya tidak hanya menjadi
konsumen penonton konser di GBK ataupun fandom K-pop terbesar, tetapi juga menjadi potensi besar sebagai pencipta konten, musisi, penari, produser,
penulis lagu, dan pelaku industri kreatif lainnya. Indonesia memiliki banyak
talenta berbakat yang berpotensi besar untuk mendorong perkembangan industri I-Pop.
Berbagai ajang pencarian bakat, komunitas musik, hingga platform digital
telah melahirkan penyanyi, penari, dan kreator konten dengan kualitas yang
memiliki daya saing.
Keberhasilan
sejumlah musisi tanah air menembus pasar nasional maupun global menjadi bukti
bahwa sumber daya manusia Indonesia juga berkualitas. Selain itu, penggunaan media sosial seperti Instagram, Tiktok, Youtube, dan Spotify dapat menjadi
media promosi karya anak bangsa untuk menarik pasar nasional maupun
internasional. Jika potensi generasi muda tersebut didukung oleh pelatihan,
infrastruktur, dan kebijakan yang tepat, Indonesia tidak hanya akan menjadi
pasar bagi produk budaya asing, tetapi juga akan mampu menghasilkan talenta dan
karya yang dapat bersaing di tingkat global.
Membangun I-Pop Akan Memberikan Manfaat yang Lebih
Berkelanjutan
Pengembangan
I-Pop ini dapat membuka berbagai peluang pekerjaan baru untuk anak muda.
Lapangan pekerjaan menjadi salah satu kebutuhan negara saat ini. Industri musik
tidak hanya membutuhkan penyanyi, penari, dan penulis lagu, tetapi juga
tim kreatif, produser, pemasaran, dan manajemen artis. Oleh karena itu, I-Pop
dapat menjadi salah satu sektor yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan
penyerapan tenaga kerja.
I-Pop
juga berpotensi menjadi ekspor budaya Indonesia, Musik menjadi salah satu
sarana yang mudah diterima lintas negara dan bahasa. Apabila dikembangkan
secara profesional, karya musik Indonesia dapat menjangkau pasar global
sehingga menghasilkan nilai ekonomi dan memperkuat citra Indonesia yang kaya
akan kreativitas. Domino effect pada sektor lain seperti Korea Selatan
juga sangat mungkin akan terjadi di Indonesia. Tidak hanya tteokbokki dan
ramyun yang dikenal tetapi juga ada nasi goreng dan sate ayam, tidak hanya
hanbok tetapi juga ada kebaya, tidak hanya Pulau Jeju tetapi juga ada Pulau Bali dan Pulau Lombok.
Kehadiran I-Pop
yang kuat juga dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap produk
budaya impor. Selama ini, sebagian besar tren musik populer di kalangan anak
muda masih didominasi oleh produk luar negeri, termasuk K-Pop. Dengan
menyediakan alternatif hiburan yang berkualitas dan memiliki identitas lokal,
I-Pop dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap karya anak bangsa. Lebih dari itu,
generasi muda dapat terdorong untuk menjadi pencipta karya dan inovasi budaya.
Indonesia tidak
perlu menutup diri terhadap budaya asing, tetapi juga tidak seharusnya terus
bergantung pada produk budaya impor. Konser K-pop tidak perlu juga ditolak
karena tetap memberikan manfaat ekonomi. Namun, memperbanyak konser
K-pop tentu tidak bisa menjadi tujuan utama. Indonesia seharusnya dapat belajar
dari Korea Selatan dalam membangun industri musik nasional dan menjadikan industri musik nasional sebagai industri musik internasional. Mari pelan-pelan kita wujudkan menonton talk show atau variety show idol tanpa harus membaca subtitle. Sebutan oppa dan hyung kita jadikan tidak
kalah menggema dengan kakak, abang, ataupun mas. Kalau idolanya dari Indonesia,
dijamin sebagai fans kamu tidak akan ditinggalkan wajib militer selama 2 tahun.
Sangat menarik, bukan? Dengan demikian, semoga Indonesia kelak dapat menciptakan
pasar, bukan terus menjadi pasar.
REFERENSI
1) https://www.instagram.com/p/DX0xlDgCdA4/
2) https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260114130328-33-702281/comeback-akbar-bts-tur-dunia-79-konser-berpotensi-cuan-rp-16-triliun
3) Hanifah DA, Ismail DH. PENERAPAN MODEL TRIPLE HELIX DALAM
PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF SEBAGAI PENGGERAK INKLUSIVITAS EKONOMI NASIONAL :
STUDI KASUS KOREA SELATAN. KENDALI Econ Soc Humanit.
2025;4(2):349–55.
Komentar
Posting Komentar